Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Forum Lingkar Pena Cabang Sukabumi

HomeAhlan Wasahlan Di FLP SukabumiApr 6, 2006
Jaza Kumullah, Atas Partisipasinya “ BELAJAR SESUNGGUHNYA ADALAH, MENCOBA MEMAHAMI DAN MENGAMBIL HIKMAH DARI SEMUA PERISTIWA YANG TERLINTAS, TEREKAM DAN TERJADI “


Blog EntryApr 15, '06 4:52 PM
for everyone
  • Pian




  • jknkjnklnlkj

    Blog EntryApr 15, '06 2:28 PM
    for everyone
    Situs FLP Pusat


    ahlan wasahlan ini baru situs FLP pusat

    Blog EntryApr 15, '06 1:18 PM
    for everyone
    assalamualaikuim

    Tulisanku=Nasihatku

    Saya pernah mengajak beberapa teman untuk berdakwah lewat mailing list, blog, forum diskusi di internet, dan sebagainya. Tapi mereka menolak dengan alasan, “Malu ah, belum pantas. Ilmu agama saya masih sedikit.” Terus terang, jawaban ini membuat saya geleng-geleng kepala. Sepertinya ada dua kesalahpahaman di sini.

    Kesalahpahaman pertama: mungkin teman tersebut menganggap bahwa dakwah itu harus seperti seorang ustaz. Harus menyampaikan pesan-pesan agama lewat kutipan ayat, istilah-istilah agama yang berbahasa Arab, dan seterusnya. Pokoknya harus seperti khutbah jumat atau ceramah-ceramah pada acara kuliah shubuh di televisi.

    Kesalahahpahaman kedua: mungkin si teman ini lupa pada salah satu hadits Rasulullah SAW, “Sampaikanlah walau hanya satu ayat.”

    * * *

    Sepengetahuan saya, pengertian dakwah itu sangat luas. Ketika saya mengajak keponakan saya untuk rajin menabung di celengan, itu juga sebenarnya dakwah. Ketika saya berkata pada seorang teman, “Yuk, kita membiasakan diri hidup disiplin,” itu juga berdakwah. Bahkan, Insya Allah tulisan ini pun termasuk produk dakwah.

    Adapun mengenai ilmu agama, seseorang itu tak perlu menjadi orang yang sangat pintar ilmu agamanya. Dalam Islam, setiap muslim adalah juru dakwah. Hadits yang berbunyi “Sampaikanlah walau hanya satu ayat” menyiratkan bahwa pesan yang kita sampaikan itu tidak harus yang bertema besar dan berat. Tidak harus banyak-banyak. Yang penting, apa yang kita dakwahkan itu sudah kita praktekkan terhadap diri sendiri. Artinya, sebelum mendakwahi orang lain, kita harus mendakwahi diri kita sendiri terlebih dahulu.

    Misalnya nih, si A adalah orang yang sangat bejat dan penuh maksiat. Tapi dia punya satu kelebihan: Selalu menjaga kebersihan dan kerapian rumahnya. Ini tentu nilai yang sangat positif, bukan? Maka, si A ini boleh mendakwahi orang lain tentang pentingnya hidup bersih dan rapi. Adapun mengenai maksiat yang masih ia lakukan, si A tentu punya tanggung jawab untuk memperbaiki diri.

    Tapi memang, idealnya kita semua harus berusaha agar menjadi muslim yang baik. Ups.. jangan salah sangka. Saya bukan mengajari kamu untuk bermaksiat ria. Astaghfirullah… tentu saja tidak. Yang di atas itu hanya contoh, yach….

    * * *

    Dengan konsep seperti di atas, Insya Allah saya selama ini merasa pede aja ketika harus berdakwah lewat tulisan. Saya sadar, saya memang masih banyak kekurangan. Dosa dan maksiat yang saya lakukan masih bejibun. Tapi saya mencoba menyebarluaskan nilai-nilai kebenaran - lewat tulisan - sepanjang kemampuan saya. Saya tidak memaksakan diri, bahwa saya harus seperti Izzatul Jannah, penulis asal Jawa Tengah yang sangat heroik dalam menyuarakan jihad Islam lewat tulisan-tulisannya. Saya merasa belum sanggup seperti itu, karena kapasitas saya masih jauh di bawah beliau.

    Berdasarkan pengalaman, saya juga sering merasakan bahwa tanpa sadar, tulisan-tulisan saya telah menjadi tausiyah (nasehat) tersendiri bagi diri sendiri. Contohnya ketika saya menulis artikel tentang penolakan terhadap hal-hal yang berbau maksiat. Setelah selesai menulis, saya tertegun, merasa terharu dan malu. Saya bertanya pada diri sendiri, “Apakah selama ini saya tak pernah tergoda pada hal-hal yang berbau maksiat? Benarkah iman saya demikian kuat terhadap semua godaan?”

    Harus diakui, saya belum sepenuhnya bebas dari godaan-godaan itu. Tapi setiap kali tergoda, saya langsung ingat pada tulisan saya. Saya berujar di dalam hati, “Jika saya berbuat maksiat, betapa malunya karena saya sendiri telah membuat tulisan yang isinya berupa perlawanan terhadap maksiat. Saya harus berbuat sesuai dengan yang saya tulis. Jika tidak, maka saya munafik!”

    Dengan pikiran seperti itu, alhamdulilllah… saya merasa ada perbaikan dalam diri saya. Saya jadi sadar, bahwa inilah salah satu kekuatan dari tulisan-tulisan yang kita niatkan sebagai lahan berdakwah. Lewat tulisan, Insya Allah kita bisa memperbaiki diri. Sebab tulisan-tulisan kita secara tidak langsung merupakan tausiyah bagi diri kita sendiri.

    Jadi, bagi kamu yang masih ragu untuk berdakwah lewat tulisan dengan alasan, “Ilmu agama saya masih sedikit,” atau “Saya belum jadi orang yang sangat baik,” saya kira sekaranglah saatnya kamu bertindak. Mulailah menulis. Insya Allah, kamu akan menemukan diri kamu sendiri berada di jalan yang diridhoi oleh Allah SWT.

    Jakarta, 2006

    jonru

    Anggota Divisi Humas FLP Pusat

    Tulisan ini sudah dimuat di majalah SAKSI edisi No. 14 Tahun VIII, 23 Maret 2006untuk lebih lengkap klik
    disini

    MusicApr 9, '06 3:42 AM
    for everyone
    LaGuku
    Track 09 title artist 

    ReviewApr 8, '06 11:02 AM
    for everyone
    Category:Books
    Genre: Religion & Spirituality
    Author:Eramuslim

    Oase Jiwa, Truly, Deeply, And Sincerely
    Oleh : Duduh Abdull@h ap
    Jerni, Sederhana, Dan mengharukan

    “Tidak mudah ternyata menjadi orang baik, Meski sebenarnya banyak kemudahan yang tersedia untuk memperbaiki diri” begitulah Taufiq Ismail mengawali Kata pengantar dalam buku OASE JIWA,

    Yup, memang ternyata seperti yang dijelaskan Taufiq ismail di atas, susah menjadi baik, tapi banyak jalan menuju kebaikan, mungkin buku ini salah satu penggugah yang akan meniupkan debu-debu khilaf, dosa, dan kesalahan yang kita buat, penulis mencoba membangunkan hati, perasaan dan naluri yang sering kali kita lupa bahkan tak ada dalam benak fikiran kita.

    Yah… hikmah, pesan, dan pelajaran, yang ingin disampaikan para penulis

    Ada tiga Fase, yang disodorkan sang editor dengan beberapa Cerpen yang begitu menyayat hati yang sudah berdebu, yang siap mencongkel karat Dosa, dan siap membakar Ghirah kita untuk melaukan kebaikan.

    TRULY. ,,,,,,
    Yap sangat Jernih penyampaian yang diberikan, Bayu Gautama memulai penulisannya dengan Judul “Kertas Hitam Putih”, sebuah Analogi yang diberikan kepada Anak-Anak SD yang harus mengisi Dua buah Kertas yang satu kertas hitam, dan kedua putih. Di atas kertas hitam mereka disuruh menuliskan segala kesalahan yang pernah mereka lakukan, dan di atas kertas putih mereka disuruh menulis semua kebaikan, Al-hasil begitu menyentuh dan jernih ternyata Kertas Hitam Lebih Dominan tulisannya dari kertas putih, sampai mereka mesti mesti mencarai tempat sekecil mungkin untuk menuliskan kesalahan mereka,

    tak itu saja, kita akan di cengangkan Oleh Azimah Rahayu, sebuah Analogi yang sederhana namun berdampak begitu besar, dengan judul “Korupsi Kecil” dia mengajak pembaca merenungkan ternyata Korupsi Dilakukan tak hanya para Pembesar Negara, seringkali kita pun berbuat namun karena Kata KORUPSI dalam kamus orang Indonesia di peruntukan bagi para penguasa yang mengambil uang, barang yang bukan haknya, sehingga kitapun seringkli merasa adem ayem ketika kita memakan buah yang di pajang di supermrket, padahal kita tau itu bukan hak kita, atau kita sering kali melintasi pagar jalan raya, padahal di sediakan tempat menyebrang, atau kita memetik pohon hiasan milik orang lain, begitu naïf diri kita, kita sering korupsi walaupun kadarnya kecil. Namun dosa sekecil papun akan nampak dihadapan tuhan, kecil dan besar tetap dosa, Waman Ya’mal Misqooladarratin Sarron Yaroh……>>>> banyak kembali kisah yng akan memberikan pelajarn bgi kita.

    DEEPLY……..
    yah!!! tak hanya jernih tapi sederhana namun tetap mengugah, Kisah Syaiful Hardy siap menggocang hati kita, ketabahan, ketaatan dan kesholihan bercampur menjadi satu sehingga membentuk pribadi yang kuat dan sabar, lewat judul “Hadiah Kesabaran” beliau memberikan klitikan kecil bagi siapa saja yang punya kesabaran, yah… selalu sabar dalam setiap menjalani kehidupan begitu barang kali sang penulis berharap. Dan masih banyk judul yang lain silahkan anda baca ………..

    Sincerely,,,,,,,,
    Mengahrukan kah? Tentu sangat-sangat mengharukan sekali, pada pase ini Hasnul Rizka Mubarikah tak ingin ketinggalan lewan cerpennya, mengalir oase keharuan pada diri sang bunda tercinta ………

    Terakhir tak akan berbekas untaian kata papun, bahasa apapun ketika kita tak mau mengawali keinginan untuk berubah, Niat!!!, itulah barang kali hal yang terpenting untuk kita Camkan, kedua keinginan tuk Belajar, belajar dari segala Hal, kesalahan, kehilapan, masa lalu, kisah dan banyak hal yang bisa kita ambil pelajaran,

    “ BELAJAR SESUNGGUHNYA ADALAH, MENCOBA MEMAHAMI DAN MENGAMBIL HIKMAH DARI SEMUA PERISTIWA YANG TERLINTAS, TEREKAM DAN TERJADI “

    Blog EntryApr 8, '06 10:58 AM
    for everyone

    Trak……., sebuah Fhoto yang bersandar di atas meja belajarku terjatauh, sebuah fhoto yang sering kulihat. Namun lain, kali ini begitu berbeda pas poto itu jatuh kacanyapun terbelah, didalmnya tersimpan sebuah fhoto wanita yng telah melahirkanku, mendidik dan membesarkanku, sebuah foto yang seringkali memberikan belaian, ras kasih saying, kasih sayang yang begitu mendalam, belaian yang tak akan pernah aku dapatkan selain dari dia, bahkn Nina seklipun kekasih yang sering aku banggakan pada temanku tak sanggup menandingi kasih saying dia. Yah dialah Ibuku

    >……….<

    Sabtu Sore di Perempatan Jalan Cisaat.

    “Rud lho yakinga tentang Karma” aku bertanya pada teman ku yang bernama RUDI.
    “hahaha. Kun-kun, lho itu kebanyakan baca dongeng, jadi otak lho banyak terpengaruhi hal hal yang gituan, masa ada Karma yang ada Takdir tau.”

    “jadi lho gak percaya karma yah”
    “ ya iyalah mana ada karma itu mah hanya dongeng tau

    huuuh…… aku menghela nafas, kegundahan ku ,mulai mmudar berkat ucpan RUDI sang Aktivis Masjid Baeturrahman, artinya aku……………………..
    >………..<

    Rabu : Masjid Beturrahman
    “Begini pak ustadz saya mo nanya? Apakah dalam jaran islam ada hukum karma atau tidak?”
    sambil antusias aku bertanya kepada Ust. Hendra MA, sambil berharap jawaban dari pak ustad bisa menenangkan kegundahan hatiku
    “heeeeh, menarik sekali pertanyaannya!!”
    senyum kecil cirri khas beliau keluar dari bibirnya, memberi tanda bahwa beliau sngt antusias untuk memberikan jawaban

    Bersambung…………

    Blog EntryApr 8, '06 6:45 AM
    for everyone
    Sungguh, tidak akan kehabisan alasan bagi siapa pun
    untuk menolak hal buruk yang akan menimpa dirinya. Hal
    buruk dalam bentuk apa pun, baik yang tersurat atau
    pun tersirat. Ini Fitrah! Bagi yang telah putus asa
    terhadap kehidupanlah hal buruk akan menjadi
    harapannya, bahkan menjadi temannya. Begitu pun dengan
    kedatangan Play Boy ke Indonesia. Menurut kami, tak
    ada satu sisi positif pun dalam diri Play Boy selain
    keuntungan PUNDI-PUNDI dan penyebaran budaya BIRAHI.

    Kreativitas? No Way! Tak sedikit pun pada diri produk
    budaya destruktif yang kreatif. Sudah saatnya semua
    memosisikan makna kreativitas itu! Kreativitas tak
    punya pusat ruang. Segala yang identik dengan Barat
    tidak semua kreatif, begitu pun sebaliknya, segala
    yang identik dengan Timur dan selain Barat tidak semua
    tidak kreatif. Saat ini karena “Barat” sebagai
    penguasa wacanalah semua produknya (seolah) produk
    kreatif dan menjadi parameter kebudayaan. Wake UP!
    Tengok ke sekeliling. Tengok budaya-budaya lain. Di
    sana begitu banyak produk kreatif kebudayaan. Termasuk
    budaya kita sendiri. Hanya karena tak terwacanakan dan
    tak tersampaikan saja film-film, buku-buku,
    teknologi-teknologi, dan segala produk budaya selain
    Barat (seolah) tidak kreatif. Bagaimana kita tidak
    terbius, saat kita menghirup darah informasi dari
    kantor-kantor berita mereka, saat kita memamah
    kenikmatan hiburan lewat MTV, saat kita terperangah
    dan terninabobokan oleh film-film Holliwood. KARENA
    ITU, KETIKA BIRAHI TELAH MENJADI RUH BUDAYA MEREKA,
    (SEOLAH) KITA HARUS MENERIMA. KITA DIPAKSA UNTUK
    MENEMANI KEBOBROKKAN MEREKA KARENA KITA MASIH MEMILIKI
    MODAL MORAL YANG MEREKA TAKUTI.

    Ya… Moralitas sebagai modal kreatif telah
    dihancurkan popularitasnya. DEPOPULARISASI MORAL telah
    terjadi. Masuknya Play Boy ke Indonesia adalah semacam
    peletakkan batu pertama dari sebuah pembangunan
    “moral” baru. Pembangunan yang promosinya telah sekian
    lama dirintis tanpa kita sadari. Kalau saja peletakkan
    batu pertama ini sukses, maka bangunan moralitas baru
    akan berdiri kokoh sebagaimana gedung-gedung pencakar
    langit di negeri ini. Karena itu, kami menolak setiap
    gejala pergeseran moral ini pada media apa pun.
    DEPOPULARISASI MORAL dengan tegas-tegas kami tolak
    APALAGI PLAY BOY.

    Kami sadar sesadar-sadarnya bahwa ini adalah bentuk
    penjajahan baru. Karena itu, perlawanan adalah sebuah
    kemestian. PERLAWANAN KULTURAL itulah yang kami
    lakukan. Mungkin munculnya budaya birahi adalah bentuk
    perlawanan kreatif mereka atas kolotnya institusi
    agama pada abad pertengahan diiringi dengan gencarnya
    ekonomi kapitalistik. Dan perlawanan kultural kami
    adalah perlawanan atas sekularisasi akibat masuknya
    kekecewaan Barat pada diri mereka sendiri. Bila kita
    coba buka mata, kita cukup banyak tantangan kultural
    yang berbeda pada ruang kita sendiri. Jadi, impor
    budaya sekular adalah jelas-jelas tidak pada ruang
    yang tepat alias sebuah pemaksaan, alias sebuah
    penjajahan jenis baru. DAN MASUKNYA PLAY BOY ADALAH
    SEMACAM GENDERANG PERANG BAGI KAMI.

    Sejak awal berdiri, FLP adalah forum kepenulisan yang
    terus melangkah, berbuat, dan bercita-cita menuliskan
    tinta syukur dari samudra nikmat-Nya yang tentu takkan
    pernah terhitung. Karena itu, dari rasa syukur itu
    energi kami berasal. Dari rasa syukur itu pulalah kami
    mencoba menebar ajak untuk menolak segala upaya
    pendangkalan fitrah religiusitas manusia yang kami
    artikan sebagai tindak kufur nikmat. Dari rasa syukur
    pula kami tolak dan hadapi berbagai upaya penjajahan
    media. DAN PLAY BOY ADALAH SALAH SATUNYA.

    DEMIKIAN SIKAP KAMI. DARI DASAR PEMIKIRAN SIKAP KAMI
    TERSEBUT AKAN MUNCUL TAK TERHITUNG ALASAN PENOLAKAN
    MASUKNYA MAJALAH PLAY BOY KE NEGERI TERCINTA INI.
    BAHKAN LEBIH DARI 1001 ALASAN. Wallahu’alam

    Indonesia, 31 Januari 2005
    Atas Nama Forum Lingkar Pena

    M Irfan Hidayatullah,
    Ketua Umum


    ReviewApr 7, '06 7:56 AM
    for everyone
    Category:Books
    Genre: Nonfiction
    Author:Dave Pelzer

    Siapa sih yang ingin tiap hari dicekoki makanan sisa anjing, dicemplungi ke bak mandi sampai sekamar sama gas amoniak? Pasti tidak ada yang mau kan? Tapi siapa sangka justru hal ini yang terjadi sama seorang bocah yang semestinya masih bermandi kasih sayang. Malah yang lebih ironisnya yang tega melakukan hali itu adalah ibu kandungnya sendiri! Ternyata ada yang lebih menderita dari Cinderella. A Child Called ‘It’ adalah sebuah kisah nyata sang penulis, Dave Pelzer, dalam mengarungi masa kecilnya yang penuh penderitaan dan penyiksaan lahir batin dari sang ibu yang pada awalnya adalah sosok ibu yang penuh kasih sayang dan perhatian yang kemudian berubah menjadi seekor monster buas tanpa belas kasih dan abusive, yang tanpa perasaan menumpahkan segala kekesalan dan rasa frustasinya kepada anaknya yang masih kecil itu. Tetapi mengapa mesti Dave? Padahal ada empat orang anaknya yang lain yang sekandung dengan Dave. Terpaan demi terpaan yang hinggap di dirinya tidak membuat semangat bocah ini luluh lantak, tapi justru ia menjadi sebuah sosok yang sangat tegar dalam menghadapi sikasaan demi siksaan dari ibunya.

    Di sini Dave Pelzer mengangkat sebuah tema yang sangat tragis dan merupakan jawaban otentik dari semua permasalahan children abuse, karena Dave terjun langsung sebagai tokoh utama dan mengalami sendiri semua kejadian-kejadian itu. Kejadian yang tak kan mungkin terlupakan seumur hidupnya, karena tidak hanya meninggalkan luka-luka lahir saja seperti guratan-guratan pisau di tubuhnya, tetapi juga luka batin yang ibarat sebuah supernova yang suatu saat mungkin dapat menghisapnya lagi. Buku ini mengajarkan sekaligus mengajak kita untuk merasakan kesendiriannya di antara kehangatan keluarga, mereka tidak menghiraukan keberadaannya karena Dave dianggap ‘sesuatu’. Kita dapat merasakan kemarahannya, merasakan kesakitannya saat ia dipukuli, serta merasakan sejuta harapan dan impian yang ia pendam. Buku ini juga terkadang menyeret kita untuk terjun merasakan isak tangis dan ratapan anak-anak yang tersiksa
    Dave Pelzer yang sekarang adalah seorang pensiunan angkatan udara AS yang pernah mengabdikan dirinya bagi masyarakat yang membutuhkan kebebasan dari kekangan kebrutalan sebagai korban child abuse dan berharap perspektif itu akan membawa ke arah yang lebih baik. Sebagai pengakuan atas berbagai prestasinya itu Dave mendapat penghargaan plus pujian dari dua mantan presisen AS, yakni Ronald Reagan dan George Bush, bahkan ia diperkenankan membawa api olimpiade yang merupakan cerminan semangatnya yang masih berkobar. Jadi, untuk kalian yang belum mengerti arti pentingnya kehidupan dan betapa sulitnya menjalani hidup ini, buruan segera beli buku ini. Two tumbs for this book!.

    Untuk Lebih jelas Klik : http://flpsemarang.multiply.com/

    Blog EntryApr 7, '06 6:04 AM
    for everyone
    Ya Allah,istriku memang tak sepintar Albert Enstain Tak pula Sepuitis Iqbal, atau Secerdas Ibnu Abbas, apalagi Secantik Alia Rohali, tak pula Sesufi Rabiah Al-Adawiyyah, tapi dia Punya Jiwa Khadijah & Aisyah Yang siap melayani Suami, mindidik anak, dan taat terhadap Sang khalik, itulah yang dia punya, namun karena itu pula aku Memilih Dia karna Dia yang akan menemaniku Di Surga,
    Trim Ya Allah Kau Anugrahkan Bidadri Dunia tuk mendampingiku dalam meretas jalan Dakwah mu


    Blog EntryApr 7, '06 5:41 AM
    for everyone
    Membangun Rasa Percaya Diri
    Rabu, 07 September 05 - oleh : admin

    Oleh: Indra Sakti, Psi

    Pada sebuah sesi pelatihan kepribadian, saya meminta salah seorang peserta menceritakan pengalamannya. Gita, sebut saja begitu, tampak antusias selama sesi-sesi pelatihan. Ia seakan mendapat pembenaran teoritis dari apa yang ia lakukan dan alami dalam setahun ini. Ia merasa, kini ia telah banyak berubah.

    Kekurangan sebagai ujian
    Gita terlahir sebagai anak ke tiga dari lima bersaudara, kakak tertuanya seorang wanita, dan kakak keduanya seorang pria. Karenanya, Gita merasa lebih dekat dengan kakak perempuannya ini. Tidak hanya itu, Gita pun sangat mengagumi Yuni, sang kakak. Dalam pandangannya, Yuni wanita yang sempurna, ia cantik, pintar dan pandai bergaul. Gita pun ingin menjadi seperti sang kakak.

    Sayangnya, Gita tak pernah bisa menyamai kakaknya itu. Prestasinya di sekolah tak menonjol, ia juga tak pernah menjadi gadis popular, baik di sekolah maupun di kampus. Ia benar-benar frustasi dengan diri sendiri. Ia merasakan bagaimana ia menjalani hidup dengan rasa marah dan menyesali diri.

    Sebenarnya, apa yang dimiliki Gita tidaklah ‘jelek-jelek amat’. Ia memiliki warna kecantikannya sendiri. Nilainya pada mata pelajaran sosial dan budaya juga baik. Temannya pun cukup banyak. Ini pun diakui oleh Gita. “Tapi entahlah waktu itu saya benar-benar berada di bawah bayang-bayang kakak yang saya kagumi itu. Selalu saja muncul dalam pikiran saya waktu itu, ‘Kenapa sih saya tak bisa seperti kakak?’ Kakak memang hebat dan saya tak ada apa-apanya dibanding dia.”

    Gita pun tumbuh menjadi orang yang rendah diri, tak berani mengambil keputusan, termasuk untuk diri sendiri dan selalu takut gagal. Ia juga sangat sensitif dan penyedih. Perasaan ini tertanam selama bertahun-tahun, sehingga menurut pengakuannya, ia agak terlambat menikah padahal sudah ada beberapa pria yang meminangnya. Ia baru berani menikah setelah didesak terus menerus oleh orang tuanya yang telah mencarikan jodoh untuknya. Syukur, pernikahan itu membawa berkah bagi Gita.

    “Saya sangat bersyukur dikarunia suami yang penyabar,” kata Gita. Tidak hanya itu , sang suami ternyata begitu telaten menumbuhkan kepercayaan diri Gita. Menurut Gita, sang suami terus berupaya menunjukkan begitu banyak karunia yang Allah berikan kepadanya. “Git, kamu itu memang tidak seperti kakakmu. Tapi bukan berarti kamu tidak punya kelebihan. Kamu punya kelebihan yang tak dimiliki kakakmu.” Kata-kata ini sering diucapkan suaminya setiap kali Gita mulai membanggakan sang kakak dan menghina diri sendiri. Biasanya Ahmad - suaminya - kemudian mulai ‘menjembreng’ sejumlah kelebihan yang dimiliki Gita.

    Apa yang dilakukan Ahmad, perlu diacungi jempol (dan tentu saja didoakan agar ia mendapat pahala), karena, setiap orang perlu sadar bahwa dirinya memiliki kekurangan dan juga kelebihan. Kemudian ia bersyukur dengan kelebihannya itu dan bersabar dengan kekurangannya. Ia juga perlu sadar bahwa kekurangan itu diberikan Allah sebagai ujian, apakah kita mau bermujahadah memperbaiki diri. Sedang kelebihan itu adalah ujian untuk mengetahui apakah kita mau berkontribusi dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.

    Orang yang merasa rendah diri selalu menganggap dirinya tumpukan kekurangan, tak satupun kelebihan yang ia miliki. Akibatnya ia merasa tak dapat berperan banyak di lingkungannya. Yang terberat ia merasa dirinya menjadi beban lingkungan. Kondisi seperti ini tidak membuat seseorang jadi lebih berhati-hati dalam bertindak, tapi malah membuatnya sering melakukan kesalahan dan tak mampu berbuat apa-apa.

    Alllah SWT tentu tidak suka dengan sikap rendah diri. Allah berfirman, “Jangan engkau merasa hina dan jangan bersedih, kalian itu mulia sekiranya kalian beriman.” Allah juga mengisahkan kemurkaanNya kepada Bani Israil yang tak mau disuruh berperang bersama Nabi Musa as. Mereka merasa, kekuatan mereka tak ada apa-apanya bila dibandingkan kekuatan musuh.

    Padahal Allah telah menjanjikan pertolonganNya jika mereka mau mengikuti perintah Allah tersebut.
    Namun begitu, memperbaiki sikap ini bukan perkara mudah. Nabi Musa pun harus bersusah payah membangun kepercayaan diri umatnya. Bani Israil memang terjangkiti penyakit bangsa terjajah, mereka merasa terhina, lemah dan tak berdaya. Musa terus berupaya menanamkan keimanan umatnya kepada Allah, mengajarkan jika seorang hamba bertawakal kepada Allah, pasti Allah akan memberikan kekuatan kepadanya.

    Mengembangkan bakat dan minat
    Sulitnya membangun kepercayaan diri ini – tentunya dalam skala yang berbeda - juga dirasakan oleh Gita. Awalnya ia malah tersinggung ketika sang suami mulai meyanjung-nyanjungnya, “Gombal !” katanya dalam hati. Tapi, suaminya bukan hanya mengobral kegombalan.“ Ia benar-benar membimbing saya untuk mengakui karunia Allah dalam diri saya,” tutur Gita. Dia didorong untuk mengembangkan minat dan bakat yang selama ini tak pernah ia pedulikan. Mulanya, Ahmad mengundang teman-temannya untuk sebuah syukuran kecil di rumah. Ia meminta Gita membuat kue. Ternyata hasilnya cukup sempurna. Seluruh tamu suka dengan kue buatan Gita.

    Teman-teman Ahmad pun meminta dibuatkan kue oleh Gita. Maka mulailah Gita asyik membuat kue.
    Menemukan minat dan bakat menjadi salah satu pintu masuk untuk membangun kepercayaan diri. Penemuan ini bisa jadi direkayasa atau karena sebuah peristiwa yang tak disengaja. Sampai saat ini Gita sendiri tak tahu apakah suaminya memang merekayasa syukuran kecil itu untuk menampilkan bakat membuat kue Gita. Atau itu momen syukuran biasa.

    Langkah berikutnya adalah mengembangkan bakat dan minat tersebut. Ini cukup sulit, karena yang bersangkutan harus mengubah gaya berfikirnya terhadap diri sendiri. Jika selama ini ia selalu membandingkan diri sendiri dengan orang lain, maka kebiasaan ini harus ia tinggalkan. Ia harus menanamkan pemikiran, “Inilah diriku dan dengan izin Allah aku akan mengembangkan apa yang kupunya.” Dalam posisi ini lingkungan hanya bisa mendorong. Diri sendirilah yang menentukan apakah ia akan bergerak maju atau tidak.

    Gaya berfikir Gita kini mulai berubah. Dorongannya untuk melangkah maju pun muncul. Secara perlahan Gita mulai menemukan dirinya. Ia mulai percaya bahwa Allah juga mengkaruniainya dengan kelebihan. Ia pun mulai dapat menerima kata-kata suaminya yang berusaha menunjukkan kelebihannya. Rasa syukur itu telah membukakan mata Gita, bahwa ia tak seburuk yang ia sangka. Ia tampak lebih riang dan berani membuat keputusan. Ia pun mulai aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. “Kini saya lebih berupaya untuk mensyukuri apa yang telah Allah berikan,” katanya menutup cerita.
    untuk lebih jelas klik : http://www.ummigroup.co.id/?pilih=lihat&id=365


    EventApr 7, '06 2:58 AM
    for everyone
    Start:     Apr 9, '06 3:00a
    Location:     Nurul Fikri
    di antos Di Nurul Fikri

    EventApr 6, '06 9:43 AM
    for everyone
    Start:     Apr 2, '06 10:00a
    Launching

    Blog EntryApr 6, '06 8:55 AM
    for everyone
    Struktur Kepengurusan Forum Lingkar Pena Cabang Sukabumi
    Pembina: Mohammad Ihsan, S.Pd.
    Ketua: Yuniar Irawanto
    Wakil Ketua: Ujang Beni Ibrohim
    Sekretaris: Aneu Erliana
    Bendahara: Neng Susanawati

    Divisi Editor:
    Hadad Saeful Anwar (085624158320)
    Duduh Abdullah AP
    Ranti Novianti
    Risma Dwi Pangesti
    Siryana Nurjanah, S.Pd.I.

    Divisi Litbang:
    Yulhan Wahyudin, A.Md.
    Ani Nurlaeni AN., SS.
    Fitri Alamsyah
    Nunik
    Rita Sumarni

    Divisi Fund Raising:
    Muhammad Ridwan
    Anneu Hilyatin
    Ela Juariyah
    Lia
    Silvia
    Tella


    Blog EntryApr 6, '06 8:12 AM
    for everyone
    aktivitas sebelum dan sedang lounching dan bedah Buku, Bersama Kang TASARO, plus Dihadiri Sekretaris FLP jawabarat Kang Aswi


    EventApr 6, '06 2:31 AM
    for everyone
    Start:     Apr 2, '06 10:00a
    Location:     Nurul Fikri
    syukron, atas di beri kepercayaan kepada sukabumi menjadi FLP cabang Jawa Barat, doakan kami